Rabu, 08 Agustus 2012

PENYAKIT KUSTA


LAPORAN PENDAHULUAN

PENYAKIT KUSTA


1.      Pengertian
Penyakit   kusta  adalah  infeksi kronik pada manusia yang disebabkan oleh mycobacterium leprae,  yang merupakan penyakit tropis menular yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia, khususnya di negara-negara sedang berkembang. Selain menimbulkan dampak psikologis penyakit inij uga mengakibatkan dampak sosial dan ekonomi ,yang  disebabkan  oleh  sejenis kuman yang  diberi  nama  Mycobacterium leprae,  dan terutama menyerang syaraf tepi yang dapat  menyebar  ke kulit  dan  juga  jaringan lainnya, seperti  pada  mata,  selaput  lendir saluran pernapasan bagian atas, otot, tulang dan  kelenjar  kelamin.

2.      Patofisiologi
Walaupun  penyebab penyakit ini sudah diketahui pada  tahun  1873  (lebih dari 100 tahun lalu), namun cara  penularannya masih belum diketahui  secara pasti. Teori yang paling banyak  dianut  adalah penularan  melalui kontak/sentuhan yang berlangsung  lama;  namun  berbagai  penelitian  mutakhir mengarah pada   droplet  infection  yaitu penularan melalui selaput lendir pada saluran napas.         Mycobacterium  leprae tidak dapat bergerak sendiri (karena  tidak mempunyai  alat  gerak) dan tidak menghasilkan racun  yang  dapat  merusak  kulit,  sedangkan ukuran fisiknya lebih  besar  daripada  pori-pori  kulit.  Oleh  karena itu,  Mycobacterium  leprae  yang   karena  sesuatu  hal dapat menempel pada kulit kita,  tidak  akan         dapat menembus kulit kalau tidak ada luka pada kulit kita.
        Seandainya  Mycobacterium leprae tersebut dapat  menembus  kulit,   maka  sel-sel  darah  putih yang  merupakan  bagian  dari  sistim   pertahanan tubuh akan segera memakannya.

3.      Penyebab
Penyakit kusta disebabkan oleh bakteri Myobacterium leprae yang ditemukan pada tahun 1874, oleh GA Hansen . Kuman ini berbentuk batang, gram positip, berukuran 0.34 x 2 mikron dan berkelompok membentuk globus. Kuman Myohacterium leprae hidup pada sel Schwann dan sistim retikuloendotelial, dengan masa generasi 12­24 hari, dan termasuk kuman yang tidak ganas serta lambat berkembangnya.
Kuman-kuman kusta berbentuk batang, biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu dengan ukuran panjang 1-8 mic, lebar 0,2-0,5 mic yang bersifat tahan asam.
Sampai saat ini kuman tersebut belum dapat dibiakkan dalam medium buatan, dan manusia merupakan satu-satunya sumber penularan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk membiakkan kuman tersebut yaitu melalui: telapak kaki tikus, tikus yang diradiasi, armadillo, kultur jaringan syaraf manusia dan pada media buatan.
Diagnosis penyakit lepra melalui usapan sekret hidung dan melalui kerokan kulit penderita. Kuman yang berada di sekret hidung yang kering, dapat bertahan hidup sampai 9 hari di luar tubuh, sedangkan di tanah yang lembab dan suhu kamar, kuman ini dapat bertahan sampai 46 hari.

4.      Jenis penyakit kusta.
Ada dua jenis penyakit kusta, yaitu tipe basah dan kering. :
o   Tipe basah disebut Multi Basiler (MB),
o   Tipe kering disebut Poli Basiler (PB).
        Jenis  manifestasinya  tergantung dari  derajat  kekebalan  tubuh penderita (Cell mediated immunity) yaitu dari Kusta yang terbatas  (Jenis Tuberculoid) sampai yang menyebar( jenis Lepromatosa)  dan Jenis pertengahan yang disebut Kusta Borderline.
        Secara awam, dikenal sebagai kusta kering dan kusta basah.Jika  kusta  terlambat diobati maka akan timbul  kerusakan  saraf dengan  akibat  berupa: mati rasa (tidak dapat  merasakan  panas, dingin,  nyeri),  kelumpuhan  otot, buta, dan  akibat  lain  yang  disebabkan oleh proses immunologis yang disebut "reaksi kusta".

5.      Gejala
Gejala penyakit kusta adalah muncul bercak pada kulit seperti panu, tetapi mati rasa. Untuk kusta jenis PB, jumlah bercaknya adalah lima ke bawah dan kurang menular. Sedangkan untuk jenis MB, lebih dari lima buah, basah, dan menular.
Permukaan bercak kering dan kasar dan tidak berkeringat, pinggi bercak jelas dan sering ada bintil-bintil kecil. Sementara itu, untuk kusta jenis basah, tanda-tandanya terdapat bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau merasa di seluruh kulit badan. Terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak itu. Termasuk pada permukaan bercak masih ada rasa bila disentuh dengan kapas. Pada awalnya, tanda kusta basah, sering terdapat pada telinga dan muka. Jenis ini dapat menular pada orang lain.

6.      Prevalensi
Ada  20  juta  penderita kusta didunia,  namun  yang  mendapatkan pengobatan  secara  teratur kurang  dari  separuhnya.  Kebanyakan mereka  berada  di  Afrika tengah,  Asia  Selatan  dan  Tenggara, Amerika  Tengah dan Selatan.  Di Indonesia tercacat  71.000  pada tahun   1992   dengan  prevalensi  3.8/10.000   penduduk   (angka  sesungguhnya  diperkirakan 3 sampai 4 kali jumlah diatas);  angka ini diproyeksikan akan terus menurun sampai dibawah 1/10.000 pada tahun  2000  (dikenal sebagai program EKT  2000,  atau  Eradikasi   Kusta Tahun 2000 Jumlah penderita kusta di dunia pada saat ini diperkirakan 12 juta orang lebih, 80% di antaranya berasal dari daerah tropis. Di-perkirakan 1,6 milyar penduduk dunia tinggal di daerah endemis berkembang.

7.      Diagnosis
Diagnosa pasti ditegakkan : bila didapatkan kuman kusta pada kerokan kulit didaerah khas dan pada daerah kuping. Pengobatan penyakit kusta berlangsung 6 – 36 bulan dan bisa gratis di Puskesmas. Pencegahannya dengan menjaga kebersihan pribadi, mandi teratur 2 x sehari dengan sabun, makan 4 sehat 5 sempurna secara seimbang.

8.      Pengobatan
Sejak tahun 1941, digunakan DDS (Diethyl-Diphenyl-Sulphone)  yang  dikenal juga sebagai Dapson dengan lama pengobatan seumur hidup. Sejak  1982 WHO memperkenalkan MDT (multiple drug therapy),  yang di Indonesia dimulai sejak 1983 dengan menggunakan Rifampicin dan DDS  (untuk kusta kering, dengan lama pengobatan 6 bulan).  Untuk  kusta basah, masih ditambah dengan Lamprene dengan lama  pengobatan  2  tahun. Panduan terbaru dari WHO (1998)  menyatakan  bahwa  untuk pengobatan kusta basah, cukup 1 tahun saja. Dengan pengobatan MDT, Mycobacterium leprae didalam tubuh  penderita akan mati dalam waktu 2 X 24 jam. Masa pengobatan yang cukup lama  (6  bulan atau 1 tahun) dimaksudkan untuk  mematikan  kuman yang  "bangun  dari tidurnya". Pada beberapa keadaan,  ada  Mycobacterium leprae yang "tidur" (istilah asingnya adalah  dormant), dimana metabolismenya praktis nol (mirip dengan binatang berdarah panas  yang tidur sepanjang musim dingin) sehingga  walaupun  ada obat yang mematikan, namun kuman tidak mengambilnya karena memang  tidak  mengambil bahan makanan sama sekali sehingga tetap  hidup.
        Diharapkan, selama masa pengobatan tersebut kuman-kuman terbangun        sedikit demi sedikit sehingga pada saat masa pengobatan  selesai, seluruh kuman telah musnah.  Kebijaksanaan  umum  yang berlaku pada saat  ini,  sesuai  dengan         pedoman dari WHO adalah rawat jalan, artinya para penderita kusta  yang  berobat  tidak  perlu dirawat di Rumah  Sakit  kecuali  ada   keadaan-keadaan khusus yang memang memerlukan perawatan di  Rumah  Sakit.       
Pengobatan yang dapat diberikan kepada penderita, waktunya antara enam sampai 12 bulan. Sebab, sesuai dengan jenis penyakit kusta (ada yang kusta kering dan kusta basah). "Selama pengobatan, penderita harus secara rutin sehingga secara teratur dan tidak boleh berhenti-berhenti, sampai sembuh,"












DAFTAR PUSTAKA

1.   Doungels. 1999.” Rencana Asuhan Keperawatan “. EGC, Jakarta
2.      Sandra M.Nettina. 2001 “ Pedoman Praktek Keperawatan “. EGC. Jakarta.
3.      Mubin Halim, Ilmu Penyakit Dalam Diagnosis dan Terapi. Penerbit Buku Kedokteran. EGC.
4.      Junadi Purnawan. Edisi Kedua. Kapita Selecta Kedokteran. FK UI. 1982
5.      Brunner. Keperawatan Medical Bedah. EGC
6.      Jurnal Internat WWW. GOEGLE.Com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar